Waisak 2555

Akulturasi budaya antara Hindu dan Buddha pada Vihara Dharmayana, Kuta

Persembahan buah-buahan berupa gebogan yang umumnya dipakai oleh umat Hindu dalam persembahyangan, termasuk canang didalamnya

Umat Buddha melakukan pemujaan pada Buddha

Umat Hindu Buddha melakukan penghormatan

Abhaya Dana: pelepasan makhluk hidup untuk mempersembahkan rasa aman

Pradaksina: umat membawa persembahan

Umat Buddha mengitari Vihara Dharmayana, Kuta sebagai bagian dari ritual Pradaksina sambil membawa persembahan

Merenung dan bersembahyang sambil menunggu detik-detik puncak Waisak jam 19.08 WITA

Kepala Vihara memimpin perenungan

Memuja Buddha saat detik-detik Waisak

Pemujaan pada Buddha

Akhirnya jam 3 siang saya tiba di Vihara Dharmayana, Kuta dan sepertinya suasana tak seriuh seperti dalam imajinasi, cukup sepi untuk sebuah perayaan besar umat Buddha. Ternyata saya salah! Acara puncak Waisak 2555 justru pada jam 19.08 WITA dan ritual di vihara ini baru dimulai dari jam 5 sore. Untung saya bertanya pada Pak Dharma, pengurus vihara yang sedari tadi duduk di sebuah meja tempat memberikan sumbangan.

Terimakasih untuk Pak Andi, salah satu pengurus vihara yang menjelaskan lebih detail tentang ritual Waisak yang dimulai dengan Abhaya Dana, yaitu pemberian rasa aman pada makhluk hidup dengan yang kali ini disimbolkan dengan pelepasan burung.

Dilanjutkan dengan Pradaksina, yaitu memberi penghormatan dengan memberi persembahan berupa lilin, bunga hingga buah-buahan yang dikemas dalam gebogan dan dibawa memutari vihara searah jarum jam. Umumnya kita melihat gebogan hanya pada ritual umat Hindu saja, tapi disini letak keunikan Vihara yang ada di bali, lengkap dengan akulturasi budayanya. umat Hindu juga memiliki ritual yang mirip dengan Pradaksina yang disebut dengan Purwadaksina.

Sambil menunggu detik-detik puncak Waisak, umat Buddha merenung dan berdoa yang dipimpin oleh kepala vihara hingga akhirnya jam 19.08. Dan di momen ini saya baru mengetahui ternyata puncak Waisak bisa jatuh di waktu yang berbeda setiap tahunnya, karena umat Buddha memakai penanggalan India, tempat Sidharta Gautama dilahirkan.

Text & photos by Anggara Mahendra

Advertisements

2 thoughts on “Waisak 2555

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s