Bali 2011

Pak Tody melihat-lihat isi pameran foto Bali 2011. Pameran ini berisi 50 nominasi dan 3 pemenang dari lomba foto Bali 2011 yang diadakan menyambut ulang tahun Bali Post dan dipamerkan di halaman depan Bali TV dari 5 - 7 Januari 2012.

Kamis, 5 Januari 2012.

Bhatara Surya bekerja lebih awal menyapu awan-awan gelap dan mengepel sisa-sisa hujan semalam hingga hari terlihat lebih ceria. Sejak pagi si Kemot sudah cemerlang menanti untuk diajak berkeliling ke tempat baru, maklum dia pun belum pernah eksis di parkiran Bali TV, tujuan kami pagi itu.

Aku dan Kemot termasuk pasangan yang gak tau dimana Bali TV, untungnya kami nggak sendirian. Perkenalkan, Pandu, skuteris gaul pekerja desain yang sudah lama tinggal di Bali pun nggak tau dimana Bali TV. Kami memutuskan mencarinya bersama, berbekal pawisik Mbah Sukmana Ghitha lewat goresan tinta digitalnya di blackberryku.

20 menit perjalanan dilewati dengan gemilang, disambut oleh kotak kue dan bingkisan berisi koran, alat tulis dan katalog pameran. Akhirnya punya juga katalog sendiri yang dicetak, lumayan untuk kenang-kenangan anak cucuku nanti 🙂

Foto-foto kami sudah dipasang berdampingan, diatur sedemikian rupa hingga satu foto dengan lainnya memiliki alur yang baik dan saling mendukung. Bingkai keemasan dipilih untuk puluhan foto bertema budaya dan kritik sosial tentang Bali, mulai dari kemacetan lalu lintas, tata ruang pura dengan tempat wisata/ industri, sawah yang makin menipis hingga modernisasi yang tercitra dalam aspek-aspek Hindu. Setidaknya pameran foto ini bisa memberikan gambaran tentang Bali secara umum dan terkini, meskipun banyak hal lainnya yang belum ditampilkan. Sebut saja, transgender yang terjadi di Bali, bagaimana oknum wisatawan luar yang tidak menghormati simbol Bali, bahkan aku sendiri pernah melihat bule kencing didekat Padmasana sekitar jam 4 pagi.

Bagaimana kami sebagai orang lokal didiskriminasikan oleh (sayangnya) orang lokal sendiri! Kebudayaan/ ritual kuno yang perlahan menghilang karena adanya faktor ekonomi atau penyederhanaan tata cara akibat kesibukan masyarakatnya mencari nafkah, dan masih banyak lainnya. Kalau kita mau bahas tentang Bali dari berbagai sudut, gak akan ada habisnya. Umumnya orang melihat Bali, masih berkaca pada kejayaan masa lampau. Dimana keeksotisan Bali yang terekam dalam foto-foto hasil jepretan kapitalis yang menjajah bumi pertiwi pada puluhan hingga ratusan tahun lalu.

Sewaktu ngobrol dengan Bu Cok Sawitri, beliau berkata “waktu seperti menciut di Bali, modernisasi dan kebudayaan kuno bisa berjalan berbarengan” kurang lebih seperti itu.

Katanya juga, “Bali seperti museum hidup, bangunan kuno berusia ratusan tahun masih berfungsi dari dulu sampai sekarang”

Bali 2011 menuju Bali 2012 dan seterusnya. Perubahan akan selalu ada…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s