Pelajaran Menjahit

Baiklah anak-anak sekalian, kali ini kita akan diajari bagaimana cara menjahit yang baik dan benar. Ibu dokter tolong disiapkan alat-alatnya:

  • Sarung tangan steril
  • Beberapa perban
  • Obat pembersih luka, entah apa namanya
  • Benang sintetis
  • Jarum besar seperti kait pancing
  • Dan lain-lain…

Petitenget – Denpasar, 8 Februari 2012.

Rutinitas pagi, siang, sore hari berlalu begitu saja. Suasana yang seharusnya ceria terasa gitu-gitu aja, nggak ada yang spesial. Bahkan warna warni matahari terbit cuma jadi hiasan yang nggak berarti. Life is FLAT!

Kemot dan aku melanjutkan perjalanan ‘datar’ kami dari Pantai Petitenget ke Denpasar sekitar jam 7 sore. Niatnya melanjutkan ke kampus untuk menyelesaikan bisnis antara mahasiswa veteran dengan kampus yang konon katanya kami cintai. Tapi apa daya, mata mengantuk dan nggak sadar jariku mengadu kesaktian dengan papan penunjuk jalan yang tingginya sejajar dengan jariku saat berkendara motor. Kata teman-teman dibelakang, suaranya cukup keras dan dikira hanya benturan biasa. Ternyata benturan itu menimbulkan banyak rasa di jariku, Cenat Cenut *kalo kata SM*SH – grup cowok-cowok unyu idaman perempuan, mereka suka pakai baju aneh dan tetap digemari perempuan.

Bingo! Jari cenat – cenut perlahan merona merah hingga menitikkan darah. Tetes demi tetes darah ada di sepanjang jalan, daging jari sedikit terkoyak dan terlihat seperti jeroan binatang yang baru dibelah. Merah merona…

Singkat cerita, Ayu sang pujaan hati panik melihat darah bercucuran dari jariku (agak lebay nih) sampai akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke RS Sanglah. Kebetulan aku laporan juga ke Linda, teman perawat yang akhirnya menawarkan diri untuk membersihkan lukaku. Saat bertemu, beberapa perawat temannya mengatakan “ini robek, harus dijahit” yahhh pasrah aja, demi kebaikan kita bersama dan moleknya jari tangan kiriku…. 🙂

“Mau dijait gimana, diobras?” kata seorang dokter senior padaku.

“hmmmm… di bordir aja bisa?” aku membalas ucapannya.

Ah intinya jariku jadi dijait! Bius lokal mulai disuntikkan, satu jari terluka ditusuk 4 kali di pangkalnya dengan obat bius untuk mendapatkan efek mati rasa. Sempat-sempatnya mbak dokter mencoba menusuk jariku dan berkata “sakit ga?” | bahkan pas ditusuk pun nggak terasa sakitnya, itu tanda obat bius sudah beraksi. yippiee!

Entah apa yang ada di pikiran pak, mas, mbak, ibu dokter ini, sepanjang proses suntik obat bius, jahit menjahit, aku terus memotret sambil mengoceh. Prosesnya menjahitnya nggak terlalu lama, sekitar 15 menit dengan simpul silang gemilang dan perban yang membuat jariku semakin berwarna. Kata mereka, harus dibersihkan setidaknya 2 hari sekali dan jaitannya akan dilepas sekitar 10-14 hari setelah proses jahit.

Penasaran bagaimana proses membuka jahitannya? nantikan saja 10-14 hari lagi… :p

Foto oleh Anggara Mahendra & Linda Sintya (saat memotret aku)

Advertisements

5 thoughts on “Pelajaran Menjahit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s