Catatan Visual

130 km sudah dilalui bersama Si Kemot hingga pelabuhan Gilimanuk, masih ada 1000an km lagi menuju Jakarta untuk mengikuti Permata Photojournalist Grant 2014. Sampai jumpa Bali! (21/11/2014)

Anggara Mahendra, Baluran National Forest  - 2014

Pukul 11.00 WIB di Taman Nasional Baluran. Puluhan kilometer ditemani pepohonan kering yang berdiri selayaknya prajurit yang mengawal tamu kehormatan. Begitu tegap meski dengan cuaca panas. Masih ada 190 kilometer dari posisi sekarang (Situbondo) menuju pemberhentian dan istirahat malam di Surabaya.  (21/11/2014)

Sesuai petunjuk @fikanindya akhirnya aku motret kemot di Paiton. Posisi detik ini lagi di Pasuruan, 63 km menuju kota singgah, Surabaya. (21/11/2014)

Matahari terbenam hari ini bersama Kemot. Lumayan 410 km (sudah termasuk ferry) berhasil dilalui. Perjalanan masih panjang ke Jakarta bro! Besok pagi lanjut ke Kendal sekalian sungkem sama Mbah Putri dan Mbah Kakung. Lama gak pulkam. (21/11/2014)

Setelah kemaleman sampai di Surabaga dengan kepala pening efek telat makan dan hidung meler akhirnya kawan semasa Asean Blogget Festival, Lukman Wahyudi mengizinkan tinggal sementara di rumah/kantor. Matur Suksma banget aturang titiang bro! Teman memang salah satu harta terbesar manusia. ___ Perjalanan dari kediaman Lukman dimulai pukul 9 WIB dan sekarang sudah berada di Ayam Bakar Wong Solo, Tuban. Bersandar sejenak, membuka laptop, memilih lagu perjalanan dan menyebarkan cerita. ___ Masih ada 200 kilometer lagi menuju tempat berteduh berikutnya, Kendal: kampung halaman keduaku setelah Bali, tempat Ibuku dilahirkan dan tempat bermainku semasa kecil. (22/11/2014)

Mampir sebentar di palabuhan para nelayan saat melewati Tuban. Kalau ini “slow riding” pasti sudah ada ratusan sampai ribuan catatan visual di kamera DSLR saya. Petani garam, pembuat kapal besar, rumah-rumah tua, pesantren, reklamasi pantai, daerah industri dan berbagai perbedaan satu daerah dan lainnya sepanjang Pantura yang menggelitik! Tapi ada tujuan yang lebih besar didepan, fokus dulu dan menyekap ego dalam kotak kecil untuk sementara waktu. Posisi sekarang sudah ada di Lasem, kotanya para pembatik. Memesan secangkir kopi hitam dengan sedikit gula di restoran Pringsewu yang sudah memasang papan iklannya sejak 60 kilometer (mungkin lebih) sebelumnya. “AYAM TIREN!! – Carilah makanan halal di restoran kami.” Dan lain lainnya hingga akhirnya memarkir motor saya di resto ini. 154 km menuju Kendal. Semoga keluarga disana baik-baik saja. Duh Mbah Putri pasti ngamuk kalo tau cucunya dari Bali ini naik motor sendiri. (22/11/2014)

Kemot pagi ini di Jatingaleh, Jawa Tengah. Setelah 2 jam-an perjalanan dari Pati dan dikawal ‘sedulur’ dari Sego Gandul Riders Community (SGRC) Pati akhirnya sampai juga disini. Bersua dengan saudara yang kaget dengan perjalananku. “Mbah pasti nguruh kamu paketin motornya” kata Tante Sus. Hahaha… Hari ini akan pulang ke Kendal dulu lalu melanjutkan perjalanan esok pagi ke Jakarta sepanjang 400an kilometer. (23/11/2014)

Keluarga kecilku di perbatasan Kendal, Jawa Tengah dengan latar rumah tempatku bermain. Dulu disekitarnya masih banyak sawah dan setiap sore saya dan sepupu lainnya akan bermain disana, kadang-kadang juga mandi dan bermain lumpur. Tapi sekarang sawah berubah jadi kebun yang tak terurus, sebagian lahan menjadi perumahan dan tidak jauh dari sawah kami ada kebun binatang yang dibangun. Perubahan akan terus terjadi, karena hanya itu yang abadi. _____ Cukup berat meninggalkan rumahku disini, terlebih lagi sejak berpamitan dengan Mbah Kakung yang sejak beberapa tahun lalu hanya berbaring di kamar, sebagian tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan karena stroke. Tidak lagi bisa berkomunikasi menggunakan kata-kata dan mungkin tidak banyak bisa mengingat lagi. Berharap Mbah Kakung bisa diberikan yang terbaik oleh Pencipta. _____ Sudah 100 km-an dari Kendal memasuki Kabupaten Pemalang. Nama familiar yang pertama kudengar setahun lalu dari seorang kawan yang sangat dekat. Setelah ini masih ada 350-an kilometer untuk ditempuh menuju Jakarta. (24/11/2014)

Harapan itu berbentuk papan panduan restoran Pringjajar dan Pringsewu yang merupakan bagian dari Pringsewu Group. 70 kilometer sebelum lokasi sudah terdapat papan ini, lalu beberapa puluh kilometer berikutnya dan seterusnya yang memberi harapan bahwa oase berupa restoran itu semakin dekat. Setidaknya ini menjadi semangat kecil diantara ratusan kilometer yang harus ditempuh.  ____ Posisi saat ini sudah berada di Kecamatan Kangdanghaur, Kabupaten Indramayu. Kurang lebih 153 km menuju Jakarta Timur. Banyak perbaikan jalan aspal yang dibeton, namun masih juga ditemukan jalanan bergelombang yang seperti ranjau. Tidak terlihat dari kejauhan, namun mematikan. Biasanya saya membiarkan satu kendaraan roda dua berada beberapa meter didepan saya dan mengamatinya dari jauh untuk tau kondisi permukaan jalan dari pergerakannya. Lumayan ampuh mengatasi Pantura ini.

Harapan itu berbentuk papan panduan restoran Pringjajar dan Pringsewu yang merupakan bagian dari Pringsewu Group. 70 kilometer sebelum lokasi sudah terdapat papan ini, lalu beberapa puluh kilometer berikutnya dan seterusnya yang memberi harapan bahwa oase berupa restoran itu semakin dekat. Setidaknya ini menjadi semangat kecil diantara ratusan kilometer yang harus ditempuh.
____
Posisi saat ini sudah berada di Kecamatan Kangdanghaur, Kabupaten Indramayu. Kurang lebih 153 km menuju Jakarta Timur. Banyak perbaikan jalan aspal yang dibeton, namun masih juga ditemukan jalanan bergelombang yang seperti ranjau. Tidak terlihat dari kejauhan, namun mematikan. Biasanya saya membiarkan satu kendaraan roda dua berada beberapa meter didepan saya dan mengamatinya dari jauh untuk tau kondisi permukaan jalan dari pergerakannya. Lumayan ampuh mengatasi Pantura ini. (24/11/2014)

Nggak hanya penyanyi dangdut yang memakai jaring-jaring di paha mulyusnya, tapi beberapa waktu belakangan muncul tren jaring pada jok motor. Iklannya bilang kalau jaring ini bisa memberi kenyamanan saat berkendara, tidak merosot saat ngerem dan adem. Oh yeaahh… aku jarang percaya iklan kaki lima macam begini hingga negara api menyerang pantatku!! Panas, keram, nyeri dan yahh gitulah nggak enak.
____
Jaring yang berbentuk seperti sistem spring bed ini memberi jarak sepersekian milimeter antara pantat dan jok. Lalu angin dapat melewati bagian bawah ‘bawahan’ anda hingga menurunkan suhu pantat dan selangkanganmu. Mungkin ini salah satu penemuan mutakhir abad ini. Menjura pada pembuatnya!!!
____
Oiya sekarang posisi sudah di Cirebon, menurut data Google Maps, ada 230 kilometer lagi menuju Jakarta. Kurang lebih setengah perjalanan. Setelah ini handphone kembali ke ‘flight mode’ untuk menghemat baterai dan menggantungkan arah pada GPS (Green Plang System) alias papan penunjuk jalan hijau. (24/11/2014)

Jaket, celana dan pembungkus sepatu anti air saya kenakan dengan bangga didepan para pengendara lainnya. Kemudian saya melaju dengan senyuman menembus hujan deras. Ya! saya aman dan kering, motor juga kuat!
___
Beberapa kilometer kemudian motor terasa tersendat untuk pertama kali… Melaju kembali dan terasa tersendat sedikit. Dalam hati sudah menyuruh untuk berhenti, tapi saya tetap menembus hujan sampai akhirnya Si Kemot ngambek. Yah… karburator kemasukan air hujan. Syukurnya ada bengkel di seberang jalan.
___
“Nak saya masih sibuk, kerjain sendiri ya.”
___
Anehnya, orang Bali selalu bilang “aget” atau “untunglah” masih ada bengkel bisa pinjem alat… Aget nggak ada rampok… Aget nggak jauh bengkelnya… Aget waktu SMA saya hobi trek-trekan dan kamar tidur merangkap jadi bengkel saat malam hari. Utak-atik bongkar karbu dan pinjem kompresor untuk menghilangkan air didalamnya. Brummm!!! Si Kemot kembali ceria dan kami pun melanjutkan perjalanan. Suksma Pak Suwadi, mekanik Pantura korlap Indramayu yang ngakunya masih 27 tahun
___
83 km menuju Jakarta… Gerimis… (24/11/2014)

Kira-kira pukul 10 malam, klakson masih asyik bersautan, diiringi oleh umpatan pengguna jalan dan ‘Polisi cepek’ yang juga kewalahan. Saya lebih memilih jalan sunyi yang penuh lubang dan genangan air, seperti yang direkomendasikan Mbak Google. Akhirnya saya mengerti kenapa Bekasi disebut ‘planet lain’.
___
Perjalanan Kendal – Jakarta Timur akhirnya usai dan saya tiba pukul 11.30 malam WIB di rumah baru saya selama di ibukota setelah 17 jam perjalanan (termasuk istirahat dan menambah teman sesama pengendara).
___
“Mukamu item… jelek!”
Komentar Ibu suri yang menampung saya disini. Yasudahlah…. Besok saya luluran pake ramuan bengkoang, dicampur irisan mangga dan nanas mentah biar kembali ganteng (ngarep). Kalau mau ikutan boleh nyumbang gula merah, terasi, garam dan cabai rawit ya… (24/11/2014)

Advertisements

6 thoughts on “Catatan Visual

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s