Catatan Cok Sawitri Pada Pameran “Air Dalam Simbol”

Cok Sawitri sebelum mementaskan Arja Siki di Festival Nusantara, Batur, 16/08/15

Cok Sawitri sebelum mementaskan Arja Siki di Festival Nusantara, Batur, 16/08/15

POTRET BALI MASA KINI DI ‘MEDAN TEMPUR SIMBOLIK’

Cok Sawitri

Potret! Bagi tukangnya diyakini dapat menyampaikan perasaan-perasaan terdalam dari suatu peristiwa. Menjadi bentuk komunikasi penting dalam kemasakinian. Peristiwa adalah proses meluas, tidak henti pada detik pembekuan sebagai sebuah potret. Tantangannya mungkin terletak di sana: pada pembekuan peristiwa, bagi tukang potret yang hendak mendorong potret memasuki jajaran karya seni, menjadi alat komunikasi untuk menyampaikan kedalaman dibalik sebuah peristiwa. Potret adalah medan tempur bagi para tukangnya.

Di era digital saat ini, seni memotret dan potret seni memasuki fase kerumitan untuk dipahami, sama rumitnya dengan pasar saham dalam hubungan globalisasi. Dengan cepat perpindahan potret dari satu tempat lain,wilayahkewilayahyangberpencardapat terjadi dalam hitungan detik melalui jaringan internet. Kemudahan memiliki peralatan memotret menghadirkan kemudian barisan potret yang jumlahnya berpindah tidak lagi dalam hitungan puluhan menit ataukah jam, namun dapat terjadi dalam sedetik memasuki jumlahribuandidepanmataseseorangyang tengah berada di kamar pribadinya.

Bali sejak abad 18-an telah bersentuhan dengan tukang potret. Potret-potret mengenai Bali di masa lampau dari jepretan

pelanconganpenelitidanwartawankalaitu yang mendapat kesempatan mengunjungi daerah-daerah jajahan dalam koloni-koloni, menghasilkan potret-potret yang bicara apa saja mengenai Bali dari era lampau. Dibaca pada era masa kini dengan pengamatan individual melalui persebaran jaringan media sosial. Satu sifat reaksi yang lahir dari era digital adalah lahirnya keanekaragaman tanggapan. Hingga derajat tertentu, muncul pertanyaan bagaimana penghargaan upaya- upaya dikelampauan untuk menyampaikan peristiwa di sebuah pulau kecil, kini dibaca oleh generasi masa kininya, yang juga kini dapat kekuatan yang sama mendistribusikan potret mengenai Bali dalam berbagai rupa dan kejadian dalam kecepatan sama (?)

Bali masa kini dalam potret terbentang luas memberi kesempatan untuk diamati sebagai pertanda kebebasan untuk berbagi, menggambarkan dan kesiapan untuk dalam tanggapan-tanggapan yang beragam. Umumnya tukang potret dari era “hitam putih’, dengan kamera manual, memberi ingatan bagi masyarakat adalah betapa jayanya jenis ‘pas photo’ dari masa ke masa, menjadi salah satu gambar yang dibaca secara serentak memberi gambaran bahwa potret setengah badan ini memasuki wilayah peristiwa legalisasi dari KTP, Ijazah, Akte perkawinan, menjadi kelengkapan

administrasi pengesahan peristiwa. Dalam ukuran tertentu, dicetak dengan latar warna yang disyaratkan, memberi jawaban yang mengundang senyum; bahwa tak ada yang dapat mengalahkan seni potret setengah badan ini sebagai kunci pembuka membaca peristiwa. Dalam era sebelum digital, peristiwa pemotretan terjadi lebih kepada momen-momen harmonis, menyenangkan, dianggap penting bagi sekelompok orang. Alat potret sebelum era digital adalah alat yang mahal termasuk proses mencetaknya. Dalam album-album keluarga berbagai peristiwa yang dibekukan menjadi refleksi di masa kini. Bagaimana perubahan mode busana, perubahan alat transportasi, perubahan latar belakang terutama pada alam dan bangunan. Tanpa teknik yang khusus, tanpa rekayasa yang luarbiasa, potret-potret dalam album keluarga kerap bicara akan perubahan-perubahan yang terjadi menjadi barisan peristiwa yang telah terlampui dalam kehidupan manusia Bali.

Memori yang mengundang pergulatan batin, konflik sosial, persoalan status dalam diri manusia, secara lugas selalu mengalami tarik menarik, memadat dalam satu jajaran potret. Bagaimana kemudian hamburan hasil jepretan tukang potret di era digital, yang berupaya membawa potret-potretnya itu terbebas dari sekedar membekukan memori pribadi, menjadi alat komunikasi yang berdampak luas (?) Menjadi duta gagasan-gagasan mengenai problem kehidupan yang dihadapi Bali? Jebakan pertama yang dihadapi adalah keterpesonaan akan kekuatan warna-warni

dalam berbagai peristiwa kehidupan orang Bali. Visual selalu otomatis menangkap warna-warni ini. Boleh jadi eksostisme dan sensualitas lebih mudah dijadikan pertanda pengambilan jejak peristiwa. Berapa ratus ribu potret mengenai pose orang menari telah dibekukan? Berapa juta barangkali pembekuan dalam detik terhadap peristiwa upacara? Oleh tukang potret di luar keperluan pribadi, yang berupaya memposisikan diri sebagai pendokumentasian (?)

Pergeseran potret-memotret ini sebenarnya tidak terlalu banyak tanjakannya. Jika dalam area perjuangan memasuki seni memotret, sebagai seni yang juga bagian perjuangan sosial melalui ekspresi-ekspresi kesenangan, hasrat, sinisme, kemarahan, kekecewaan, kehalusan budi, ketakutan bahkan kebimbangan, yang dibagikan dalam bentuk pameran foto, mewakili batas keterbatasan dalam seni pembekuan peristiwa itu (?) Potret yang dianggap indah, menghibur, membawa pesan yang unik, menusuk hati, mengundang reaksi terbalik selalu tergantung pada konteks sosial tertentu. Pertanyaannnya, untuk Bali dan kehidupannya kini, dari persperktif budaya mana yang lebih berguna, kepuasaan yang segera terasa sebab dinikmati sebagai pengalaman artistik ataukah proses memotret sebagai peristiwa yang panjang dan lama mengenai apa yang bernilai tinggi dalam seni potret mengenai Bali yang tak pernah terungkapkan akan dimensi yang lebih mendalam dari pemasangan berbagai potret dalam pameran (?)

Menjadikan air dan peradaban sebagai gagasan dalam kaitan pameran kali ini, pada rangkaian DFF (Denpasar Film Festival) ke- enam di tahun 2015, empat tukang potret dengan latar belakang berbeda menjangkau sebuah proses; upaya membawa potret- potretnya sebagai karya yang diharapkan membawa pesan mengenai air dan peradaban di Bali. Peradaban sejatinya adalah peristiwa ekspresi yang dijadikan perilaku berulang. Air dalam konteks Bali adalah agama tua, mengalir tidak sebatas phisik namun non phisik. Hadir profan ataukah suci bahkan astral. Lalu bagaimana membaca pesan dari gagasan-gagasan sebagai pribadi yang berupaya menangkap dan membeku gagasan itu pada konteks peristiwa disekitar diri mereka. Bukan tanpa sebab jika dalam pameran ini, jajaran potret yang ditawarkan oleh Jeje Prima Wardani, Anggara Mahendra, Syafi’udin Vifick dan Johannes P. Christo bergerak kepada ide pertempuran simbolik yang dialami masing- masing pribadi berhadapan dengan bauran berbaga ide di medan pertempuran simbolik itu. Medan tempur adalah kenyataan betapa subur makmurnya produksi hasil potretan mengenai Bali, yang tersebar secara serempak melalui media sosial, melalui fasilitas dunia maya, melalui berbagai inisiatif kegiatan pameran; melalui komunikasi pribadi via internet. Menjadi gambaran bahwa aliran air dalam pikiran pembayangan yang sederhana adalah juga memiliki gerak konsisten sekaligus berbauran, tak terbaca lintasan-lintasannnya. Bisa jadi carut marut

itu adalah kejelasan dari inti pergerakan air yang sulit tertangkap oleh alat potret. Namun bagaimana menangkapnya dan membekunya sebagai fenomena, gugahan untuk mengajak penikmat potret mendapat kunci ‘pembacaan’ akan adanya gejala–gejala dalam potret itu, yang bisa jadi menjadi isyarat akan adanya peristiwa yang belum terbaca dan dipahami, walau itu terjadi disekitar diri kita dalam lingkup kesetiapharian.

Potret! Dan, tukang potret pada suatu ketika akan memasuki tahap di mana memilih dan menilai karyanya sendiri. Itu sama persis dengan sifat bagaimana sebuah kehidupan dalam bingkai budaya menetapkan nilai- nilainya sendiri. Dalam konteks itulah, pertanyaan mengenai Bali dalam potret ketika memasuki gagasan-gagasan dalam medan tempur simbolik, dijawab dengan pemilihan gambar dari peristiwa pemikiran, yang kadang membawa kita dalam renungan sederhana bahwa kebebasan kultural dalam konteks potret memotret adalah kebebasan kolektif, yang segera dapat dibalikkan ke awal tulisan ini, kemudian membiarkannnya menjadi pertempuran simbolik di tengah riuhnya produk massal jepretan di sana-sini di pulau Bali ini.

Tentang Cok Sawitri 

Lahir di Sidemen, Karangasem, Bali, 1 September 1968, kini tinggal di Denpasar, Bali. Pertengahan tahun 2006, ia berkolaborasi dengan Dean Moss dari New York dalam acara Dance Theater.

Selain sebagi aktivis teater, Cok juga menulis beberapa artikel, puisi, cerita pendek dan juga aktif dalam aktifitas budaya sosial sebagai pendiri Forum Perempuan Mitra Kasih Bali ditahun 1997 dan Kelompok Tulis Ngayah ditahun 1989. Cok tercatat sebagai salah satu dari penasehat The Parahyang untuk majelis Desa Pekraman atau desa dat) di Sidemen, Karangasem, Bali. Ia juga aktif dalam organisasi yang bergerak dalam bidak perempuan dan kemanusiaan sampai grup-grup teater di Bali.

Menurutnya teater di Bali sangat berbeda dari teater lain di Indonesia, atau di dunia pada umumnya. Perbedaan yang sederhana adalah teater di Bali sangat berdasarkan pada proses kreatif budaya di pulau tersebut. Pertunjukan di Bali umumnya menampilkan kekuatan dan semangat.

Karya-karya dari Cok sawitri adalah Meditasi Rahim tahun 1991, Pembelaan Dirah dan puisi Ni Garu tahun 1996, Permainan Gelap Terang ditahun 1997, Sekuel Pembelaan Dirah pada tahun 1997, Hanya Angin Hanya Waktu tahun 1998, Pembelaan Dirah pada festival monolog tahun 1999 di Bali, Puitika Melamar Tuhan tahun 2001, Anjing Perempuanku, di Denpasar, Singaraja, Karangasem dtahun 2003, Aku Bukan Perempuan Lagi tahun 2004, Badan Bahagia, bagian dari wisuda Gumi, episode pertama dari Pembelaan Dirah di Ubud, dan Pusat Seni Provinsi Bali pada tahun 2005.

sumber: www.tamanismailmarzuki.com

Advertisements

One thought on “Catatan Cok Sawitri Pada Pameran “Air Dalam Simbol”

  1. Pingback: Catatan Pameran “Air Dalam Simbol” | anggara mahendra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s