Catatan kecil

Menyusun beberapa foto, ternyata masih ada yang kurang dan konten yang kurang kuat.

Catatan kecil, bisa dibilang kegalauan saat melihat kembali ribuan foto di hardisk.

2007, berkenalan dengan Lomography dari seorang kawan bernama Lita, lanjut eksplorasi memakai kamera SLR Nikon FM 10 yang dibeli dari seorang teman. Sering jalan-jalan, memotret, menghabiskan puluhan roll film untuk bersenang-senang sekaligus belajar. Mengenal dunia digital fotografi sekitar tahun 2009, pinjam kamera kiri kanan, simbol yang ada di kamera pun nggak ada satupun yang dimengerti. Asal jepret, yang penting motret.

2012 memutuskan untuk membuat rangkuman foto-foto. Pending hingga sekarang, tahun 2013…

Ribuan data foto digital, ratusan folder foto, 4 hardisk external sebagai bank data.

Sejak beberapa bulan kebelakang, semua bank data dibuka kembali, folder satu hingga folder lainnya, memilah, memilih mana foto yang layak untuk dipajang sebagai refleksi diri seorang Anggara Mahendra. Satu jam, dua jam, tiga jam per hari dan seterusnya, hingga akhirnya mendapatkan kesimpulan, “NONE OF MY PICTURES ARE IMPORTANT!”

Kesimpulan ini berdasarkan obral obrol dengan banyak teman tentang fotografi, seniman, editor, teman fotografer dan perjalanan hidup yang tentunya mengubah cara pandang juga tentang fotografi.

Wayan Juniarta, jurnalis senior dan juga editorku di Bali Daily – The Jakarta Post nyeletuk waktu aku melihat-lihat karya Steve Mccurry dalam blognya http://stevemccurry.wordpress.com/.

“Kalau kamu di sana, dapet nggak foto itu? Kalau dapet, berarti fotonya biasa aja” 

Sentilan sederhana yang tetep nempel di otak sampai sekarang, merubah cara pandang memotret. Bagaimana merekam momen yang bukan momen semua orang, perspektif berbeda. Hal ini juga sempet dibilang oleh Chris McGrath, staff Getty Images untuk Asia Tenggara yang sempet kutemani saat assignment di Bali. Cara bekerjanya berbeda dengan fotografer wire lainnya. Saat semua orang memotret objek yang sama, dia justru berkeliling, memperhatikan cahaya dan mencari momennya sendiri. Alasannya sederhana, jika semua foto itu sudah beredar di internet, klien nya akan lebih memilih foto yang berbeda dalam satu momen.

“Ternyata kebanyakan fotoku itu indah-indah, tapi sedikit yang penting” 

Kira-kira itu yang sempat diungkapkan Rio Helmi, fotografer setengah bule setengah Indonesia yang tinggal di Ubud. Merasakan hal yang sama ketika membuka ratusan folder foto, tidak banyak yang penting, hanya indah dilihat saja.

Menjadi fotografer yang tinggal di Bali memang seperti surga, dengan keindahan alam dan budaya yang sangat visual. Terbuai, mematikan kreativitas dan menjadi fotografer festival yang jago kandang karena ritual yang berulang dan tahu persis dimana angle dan pencahayaan yang bagus.

“Fotografer yang baik itu bisa menghasilkan foto bagus dimanapun dan kapanpun dia berada” 

Lagi-lagi mengutip Wayan Juniarta yang akrab kupanggil Bli Jun atau “Bro”.

Dalam satu website nggak mungkin juga menyajikan puluhan acara budaya di Bali. Pengunjung web pasti eneg juga ngelihatnya, kreativitas, idealisme seakan terkubur jika itu terjadi. Komentar yang diterima hanya sebatas pujian pada visual yang disajikan. Apa itu yang kumau? Sepertinya nggak!

Kamera membantu kita mewujudkan apa isi otak, pemikiran, idealisme dan minat kita. Hal ini lebih penting ketimbang hanya konten visual yang baik, perlu konten berupa tulisan yang kuat untuk mendukung foto.

Taruh kamera, lensa, mulailah membaca, berdiskusi hingga akar pemikiran kuat saat diwujudkan dalam rangkaian foto.

*saat fotografer galau dengan karyanya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s